PK IRA I

Rawa adalah lahan dengan kemiringan relatif datar disertai adanya genangan air yang terbentuk secara alamiah yang terjadi terus-menerus atau semusim akibat drainase alamiah yang terhambat serta mempunyai ciri fisik: bentuk permukaan lahan yang cekung, kadang-kadang bergambut; ciri kimiawi: derajat keasaman airnya terendah dan ciri biologis: terdapat ikan-ikan rawa, tumbuhan rawa dan hutan rawa (RPP Rawa, 2010). Rawa dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: rawa pasang surut yang terletak di pantai atau dekat pantai, di muara atau dekat muara sungai sehingga dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut dan rawa non pasang surut atau rawa pedalaman atau rawa lebak yang terletak lebih jauh jaraknya dari pantai sehingga tidak dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut.

Rawa adalah sumberdaya alam komposit (majemuk), yang memerlukan keterpaduan antar sektor dalam mengelolanya. Sasaran yang ingin dicapai dalam pengelolaan rawa adalah melindungi dan melestarikan rawa, penggunaan yang bermanfaat untuk kesejahteraan rakyat, mengurangi masalah lingkungan yang mungkin

timbul, mendukung pembangunan regional yang seimbang dan mempertahankan keseimbangan ekosistem. Suatu pengelolaan rawa terpadu diperlukan guna menyeimbangkan antara konservasi dengan pendayagunaan rawa agar tercapai pengelolaan yang berlanjut.

Pemanfaatan lahan rawa di Provinsi Jambi adalah sebagai lahan pertanian, perikanan, ladang/perkebunan, sarana transportasi, dan daerah suaka alam. Pemanfaat rawa di Provinsi Jambi dilaksanakan oleh Pemerintah dan swadaya dari masyarakat.

Namun penyediaan infrastruktur di daerah rawa dalam rangka pendayagunaan rawa adalah kurang memadai terutama air bersih dan sarana transportasi khususnya jembatan. Selain itu penyediaan air untuk keperluan pertanian cukup memadai jika didukung dengan O & P yang kontinyu. Potensi masyarakat di sekitar rawa terhadap pengelolaan rawa adalah sebagian berpotensi besar (aktif) terutama petani non transmigran. Pengetahuan masyarakat di sekitar rawa tentang pengelolaan rawa adalah kurang begitu memahami.

GAMBARAN UMUM

Provinsi Jambi dengan luas daratan 53.435 Km2 mempunyai luas daerah pertanian 18.222 Km2, dimana kondisi wilayah Provinsi Jambi pada umumnya dataran rendah dan sebagian dilalui oleh bukit barisan, yang mengalirkan anak sungai besar, kecil dan hamparan sawah yang berada disekitar dataran lereng bukit.

Daerah Rawa di Provinsi Jambi secara bertahap telah dimulai sejak tahun 1969 – 1970, dimulai dengan Delta Berbak di Kabupaten Tanjung Jabung Timur hingga rawa Singkut di Kabupaten Sarolangun. Dalam program pemerintah untuk pembukaan persawahan pasang surut seluas satu juta hektar yang dimulai pada Pelita I pada tahun 1974, Provinsi Jambi termasuk salah satu Provinsi yang mempunyai potensi untuk pembukaan persawahan pasang surut tersebut. Pengembangan daerah rawa terus berlanjut hingga kini dan pada umumnya dimanfaatkan masyarakat untuk lahan persawahan, perkebunan, perladangan, dan pemukiman.

Berdasarkan instansi pengembangnya dan tujuan pengembangannya, daerah rawa di Provinsi Jambi dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:

  1. Daerah rawa yang dibuka oleh pemerintah untuk tujuan transmigrasi.
  2. Daerah rawa yang dibuka secara swadaya oleh masyarakat setempat maupun pendatang.

Potensi Lahan rawa potensial untuk usaha tani di Provinsi Jambi adalah seluas 684.000 Ha atau sekitar 12 % dari luas Provinsi Jambi, sementara lahan yang sudah dibuka adalah seluas 252.983 Ha baik rawa pasang surut seluas 211.962 Ha dan rawa non pasang surut (rawa lebak) seluas 41.021 Ha.

Pengembangan rawa seluas itu telah melalui berbagai kegiatan peningkatan diantaranya melalui Special Maintenance, APBN murni, OECF dan yang terakhir melalui dana IBRD dengan programnya ISDP (Integrated Swamp Development Project – Pengembangan Rawa Terpadu). Berbagai program peningkatan tadi bertujuan untuk meningkatkan sarana dan prasarana pengairan baik saluran maupun bangunan air sehingga dapat berfungsi secara teknis dan proporsional dengan pengelolaan air yang terpadu.

Dalam rangka menunjang program untuk meningkatkan produksi pangan khususnya beras, pembangunan di bidang pengairan merupakan salah satu usaha yang harus diwujudkan, baik berupa pembangunan baru maupun rehabilitasi jaringan rawa yang telah ada guna meningkatkan ketahanan pangan dan menambah penghasilan petani, sehingga akan meningkatkan taraf hidup perekonomian bagi masyarakat.

Pembangunan dibidang pengairan antara lain dengan membuat jaringan baru di daerah yang lahannya potensial untuk dijadikan persawahan serta rehabilitasi jaringan rawa yang mengalami kerusakan supaya dapat berfungsi lagi secara optimal, sehingga kebutuhan airnya dapat dipenuhi